1) Tetapkan fokus & hipotesis
a. Isu utama: apa yang mau dibuktikan/diuji?
B. Hipotesis kerja: dugaan awal yang masuk akal (mis. “ada konflik kepentingan dalam pengadaan”).
C. Batasan: lokasi, periode waktu, instansi/aktor kunci, dan apa yang tidak dibahas.
2) Rumuskan pertanyaan kunci
Buat 5–10 pertanyaan yang kalau terjawab akan “mengunci” cerita, misalnya:
a. Apa kerugiannya? siapa terdampak?
b. Siapa pengambil keputusan? siapa diuntungkan?
c. Aturan apa yang seharusnya berlaku? apa yang dilanggar?
d. Bukti apa yang diperlukan untuk menyatakan itu benar?
3) Pemetaan aktor & kronologi awal
a. Buat timeline (tanggal kejadian, rapat, tender, pembayaran, insiden, dll).
b. Buat peta relasi (siapa terhubung ke siapa: pejabat–vendor–perantara–keluarga–organisasi).
4) Daftar kebutuhan bukti (evidence checklist)
Pisahkan bukti menjadi:
a. Dokumen: kontrak, laporan audit, notulen rapat, surat keputusan, data pengadaan, izin, laporan keuangan, data kepolisian/rumah sakit, dll.
b. Data: spreadsheet transaksi, data statistik, data geospasial, log sistem, rekaman panggilan (jika legal), dll.
c. Saksi/insider: pelapor, korban, staf internal, ahli.
d. Bukti lapangan: foto, video, observasi lokasi, sampling (kalau relevan & aman).
5) Strategi memperoleh informasi
a. Riset terbuka (OSINT): situs resmi, arsip berita, basis data publik, registrasi perusahaan, putusan pengadilan, dll.
b. Permintaan dokumen: jalur formal (mis. PPID/KIP) atau permintaan ke narasumber.
c. Wawancara bertahap:
- Background (yang aman dulu)
- On-the-record untuk konfirmasi
- Right of reply untuk pihak yang dituduh/terkait (wajib secara etika)
6) Rencana wawancara (siapa, tujuan, pertanyaan)
Buat tabel internal:
a. Narasumber → tujuan → info yang dicari → dokumen yang diminta → risiko → status (belum/terjadwal/sudah).
Tips: mulai dari sumber yang “paling aman & paling tahu” sebelum sumber berisiko tinggi.
7) Manajemen risiko & keamanan
a. Risk assessment: risiko hukum (pencemaran nama baik), fisik, digital, dan keselamatan narasumber.
b. Protokol keamanan digital: 2FA, enkripsi, pemisahan perangkat/akun liputan, backup aman.
c. Perlindungan sumber: anonimitas, penyamaran identitas, minimalkan jejak komunikasi.
d. Tentukan trigger stop: kondisi kapan liputan harus dihentikan demi keselamatan.
8) Verifikasi & kontrol kualitas
a. Terapkan prinsip dua sumber independen untuk klaim besar.
b. Cek silang: dokumen vs wawancara vs data vs observasi.
c. Simpan “audit trail”: catatan dari mana data didapat, kapan, siapa yang memberi.
9) Struktur cerita & angle publik
a. Tentukan: konflik utama, korban/impact, siapa bertanggung jawab, dan apa solusi/aksi publik.
b. Siapkan “temuan inti” (3–5 poin) + bukti pendukung tiap poin.
10) Timeline kerja & pembagian tugas
a. Milestone: riset (minggu 1), pengumpulan dokumen (minggu 1–2), wawancara (minggu 2–3), verifikasi (minggu 3), penulisan & legal check (minggu 4).
b. Tetapkan PIC: data, wawancara, lapangan, visual, fact-check.
Tag Terpopuler
Cara Menyusun Rencana Investigasi Liputan
Redaksi
Kamis, 18 Desember 2025 | 12:15:00 PM WIB
Last Updated
2025-12-18T05:15:24Z
